Rabu, 06 Juni 2012

Pengelolaan Padang Lamun


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Padang Lamun di Indonesia yang diperkirakan seluas sekitar 30.000 km2 mempunyai peran penting sebagai habitat ikan dan berbagai biota lainnya. Berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi penting menjadikan padang lamun sebagai tempat mencari makan, berlindung, bertelur, memijah dan sebagai daerah asuhan. Padang lamun juga berperan penting untuk menjaga kestabilan garis pantai. Dalam perkembangannya banyak daerah lamun yang telah mengalami gangguan atau kerusakan karena gangguan alam ataupun karena aktivitas manusia. Gangguan atau tekanan oleh aktivitas manusia yang berlangsung terus menerus menimbulkan dampak yang lebih besar. Akar masalah perusakan padang lamun antara lain karena ketidak-tahuan masyarakat, kemiskinan, keserakahan, lemahnya perundangan dan penegakan hukum. Oleh karena itu pengelolaan padang lamun harus mengatasi masalah mendasar itu dalam upaya rehabilitasi padang lamun. Rehabilitasi padang lamun dapat di lakukan dengan dua pendekatan yakni: rehabilitasi lunak dan rehabilitasi keras. Rehabilitasi lunak lebih ditekankan pada pengendalian perilaku manusia yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, misalnya melalui kampanye penyadaran masyarakat (public awareness), pendidikan, pengembangan mata pencaharian alternatif, pengembangan Daerah Perlindungan Padang Lamun, pengembangan peraturan dan perundangan, dan penegakan hukum secara konsisten. Rehabilitasi keras mencakup kegiatan rehabilitasi langsung di lapangan seperti transplantasi lamun. Dibandingkan dengan
ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem lamun belum banyak mendapat perhatian Ini disebabkan karena ekosistem lamun selama ini sering disalah-pahami sebagai lingkungan yang tidak banyak memberi manfaat nyata bagi manusia. Di Indonesia baru setelah tahun 2000-an perhatian pada lamun mulai berkembang seiring dengan mulai berkembangnya pengetahuan tentang peran lamun.
            Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suatu padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
            Lamun juga penting bagi perikanan, karena banyak jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting, hidup di lingkungan lamun. Lamun dapat befungsi sebagai tempat ikan berlindung, memijah dan mengasuh anakannya, dan sebagai tempat mencari makan. Selain ikan, beberapa biota lainnya yang mempunyai nilai ekonomi juga dapat dijumpai hidup di padang lamun seperti teripang, keong lola (Trochus), udang dan berbagai jenis kerang-kerangan. Beberapa hewan laut yang sekarang makin terancam dan telah dilindungi seperti duyung (dugong) dan penyu (terutama penyu hijau) makanannya terutama teridiri dari lamun. Lamun juga mempunyai hubungan interkoneksi dengan mangrove dan terumbu karang sehingga diantara ketiganya dapat terjadi saling pertukaran energi dan materi.
            Dilihat dari aspek pertahanan pantai, padang lamun dengan akar-akarnya yang mencengkeram dasar laut dapat meredam gerusan gelombang laut hingga padang lamun dapat mengurangi dampak erosi. Padang lamun juga dapat menangkap sedimen hingga akan membantu menjaga kualitas air.

B.     Rumusan Permasalahan
Rumusan masalah yang dapat diambil yaitu sebagai berikut:
Ø  Apa saja fungsi-fungsi ekosistem lamun.
Ø  Apa saja kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun di Kotawaringin Barat.
Ø  Bagaimana pengelolaan ekosistem lamun.
C.     Tujuan dan Manfaat
-Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Ø  Mengetahui fungsi-fungsi ekosistem lamun
Ø  Mengetahui kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun
Ø  Mengetahui sistem pengelolaan ekosistem lamun yang baik.
            -Adapun manfaat yang  dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
Kita dapat mengetahui kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun serta penanggualangan dan pengelolaannya secara optimal untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     Parameter Lingkungan
1.      Suhu
            Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan, karena suhu mempengaruhi kualitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor penting dalam menjelaskan biogegrafi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkumental al, 1989).       Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan pada saat cahaya penuh. Pengaruh suhu pada lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses  fisiologi yaitu fotosintesis, dan reproduksi, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun tajam apabila suhu perairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).
2.      Arus  laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan
            Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang disebabkan tiupan angin, perbedaan densitas air laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut  (pasut). Arus disebabkan aleh pasang surut biasanya banyak diamati diperairan pantai  (Nontji, 1993).
Kecepatan arus perairan berpengaruh pada produktivitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap (standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det (Dahri et al, 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kecuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi  penetraasi cahaya. Aksi menguntungka  dari arus terhadap organisme terletak pada transport bahan makanan tambahan bagi organisme dan dalam hal pengankutan  buangan (Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus dan detritus hal ini menunjukkan kemampuan tumbuhan lamun mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998).
3.      Salinitas
            Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya di nyatakan dalam satuan ‰ (permil). Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).
            Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki kisaranyang lebar yaitu 10‰ -40‰. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35‰ (Dahuri et al, 1996)
4.      Kecerahan
            Kecerahan perairan menunjukan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada  kedalaman tertentu. Pada perairan alami,kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhan cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannyayang terbatas pada  daerah yang masih menerima cahaya matahari (Berwich, 1983 dalam Mantane, 1998). Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh kandungan lumpur, kandungan plankton, dan zat (Birowo et al dalam Mintane, 1998).
5.      Kekeruhan
            Kekeruhan secra tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapt menghalangi penetrasi cahaya yang di butuhkan oleh lamun nntuk berfotosintesis  masuk ke dalam air. Kekeruhandapa disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup sepertiplankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya . pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor  pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997).
6.      Kedalaman
            Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona interdidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal di cirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum  interdidal bawah (Hutomo, 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (0986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. accoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi.
7.      Oksigen Terlarut (DO)
            kadar oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan turbulensi air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/alfitude dan berkurangnya rekanan atmosfer (Effendi, 2000).
            Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selain itu kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman  organisme suat ekosistem perairan. Menurut Effendi (200) perairan yang memperuntukan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memilih kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik.
            Sumber oksiogen bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitarbisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994 dalam Effendi, 2000).
8.      Subtrat
            Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangnya guna menyokong tumbuhan di tempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate, 1970).
            Kesesuaian subtrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup. Semakin tipis subtrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal subtrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman subtrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal yaitu, : 1) pelindung tanaman dari arus laut.; 2) temat pengelolahan dan pemasok nutrien (Berwick,1983).
            Padang lamn hidup diberbagai tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang erdiri dari 40% endapan lumpur dan fine mud (Dahuriet al, 1996). Semua tipe subtrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas di jumpai pada subtrat yang lunak. Berdasarkan tioe karakteristik tipe subtratnya padang lamun yang tumbuh di perairan Indonesia di kelompokan menjadi 6 katagori, yaitu: ) Lumpur, 2) Lumpur  pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang  dan 6) Batu karang. Pengelompokan tipe subtrat ini berdasarkan ukuran  partikelnya dengan menggunakan Segitiga Milla.






















Sumber : Brower and Zar (1977) dalam Hartati dan Awalluddin (2007)

Gambar .   Persentase tekstur substrat berdasarkan Segitiga Millar


9.      Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kellimpahan dan morfoogi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo, 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapa dipertukarkan yang dapat dimanfaatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitassedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen harus mempunyai kapsitas penyerpan yang paling tinggi. Penyerpan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama didaerah tropik (Dawes, 1981).penyerappan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Ertmeijer, 1993).




BAB III PEMBAHASAN

A.    Fungsi Ekosistem Lamun
Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator.
`Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
Ø Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).
Ø Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
Ø Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
Ø Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:
Ø Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
Ø Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
Ø Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
Ø Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
Ø Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Ø Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Ø Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Ø Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
Ø Digunakan untuk kompos dan pupuk
Ø Cerutu dan mainan anak-anak
Ø Dianyam menjadi keranjang
Ø Tumpukan untuk pematang
Ø Mengisi kasur
Ø Ada yang dimakan
Ø Dibuat jaring ikan
Ø Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
Ø Penyaring limbah
Ø Stabilizator pantai
Ø Bahan untuk pabrik kertas
Ø Makanan
Ø Obat-obatan
Ø Sumber bahan kimia.

B.     Kerusakan Ekosistem Lamun

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di perairan yang cukup rentan terhadap perubahan yang terjadi. Sehingga mudah mengalami kerusakan. Ekosistem lamun juga sering dijumpai berdampingan atau saling tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan terdapat interkoneksi antar ketiganya, dimana ekspor dan impor energi dan materi terjadi diantara ketiganya. Ada ikan jenis-jenis tertentu dapat berenang melintas batas dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya.
Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 km2, tetapi diperkirakan kini telah menyusut sebanyak 30 – 40 %.  Kerusakan ekosistem lamun antara lain karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing).  Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten misalnya, telah melenyapkan ratusan hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari ( DKI Jakarta) telah berkurang sebanyak 25 % dari tahun 1999 hingga 2004.
Kerusakan lamun juga dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress. Kerusakan-kerusakan ekosistem lamun yang disebabkan oleh natural stress biasanya disebabkan oleh gunung meletus, tsunami, kompetisi dan predasi. Dan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Ø  Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Ø  Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
Ø  Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak memupuk tambak).
Ø  Water polution (logam berat dan minyak).
Ø  Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihan dan cara penangkapannya yang merusak).
C.     Akar Masalah Pengelolaan
Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut diatas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Padadasarnya manusia tidak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa elakukan mitigasi atau pengaulangan akiibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam mempunyai ketahanan (reilience) da mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas terentu.
Dalam pengelolaanpadang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padag lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasarkan acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1.         Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2.         Kemiskinan masyakarat
3.         Keserakahan mengeksploitasi sumbernya lautan
4.         Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5.         Kelemahan perundangan
6.         Penegak hukum yang lemah

D.    Pengelolaan Ekosisem Lamun
Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumberdaya alam  diberikan porsi yang lebih besar.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai  komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah pengelolaan berbasis masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996) mengemukakan  bahwa pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan  mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan  terhadap sumberdaya pesisir termasuk lamun di kawasan tersebut.
E.     Pengelolaan Berwawas Lingkungan.
Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam setiap perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup di pesisir dan laut dalam lingkungan pembangunan.
F.      Pengelolaan Berbasis Masyarakat.
Menurut definisi, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat adalah suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimanan pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak atau berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut (Carter, 1996). Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (community-base management) dapat didefinisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya, dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, dan tujuan serta aspirasinya (Nikijuluw, 2002; Dahuri, 2003).
Pengelolaan berbasis masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah co-management(pengelolaan bersama), yakni pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan. Pengelolaan berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidupnya sendiri dan mampu mengelola sumberdaya mereka dengan baik, sehingga yang dibutuhkan hanyalah dukungan untuk mengelola dan menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat saat ini menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah setempat dalam hal pengambilan keputusan. Demikian pula dalam pelaksanaan suatu kegiatan, dukungan pemerintah masih memegang peranan penting dalam memberikan pengarahan, bantuan teknis, dan merestui kegiatan yang sudah disepakati bersama. Sebaliknya, bila tidak ada dukungan partisipasi masyarakat terhadap program yang sudah direncanakan oleh pemerintah, maka hasilnya tidak akan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemerintah setempat secara bersama-sama sangatlah penting sejak awal kegiatan.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment centralized management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community based management). Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara langsung menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada pengelolaan sumberdaya alam yang berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal sebagai pengguna dari sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu: (1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), dan (2) pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter, 1996), yaitu: (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, (2) mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik, (3) ampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, (4) responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal, (5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada, (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen, dan (7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem padang lamun yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya padang lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini, pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan.
Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakt dapat diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua komponen masyarakat dan pemerintah sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama, yaitu: (1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri perikanan modern), dan (2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya hayati laut (misalnya, berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air, pencemaran).
G.    Pendekatan Kebijakan
Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek, yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektoral; (3) keterpaduan disiplin ilmu; dan (4) keterpaduan stakeholders (pemakai).
H.    Rehabilitasi Pdang Lamun
Merujuk pada kenyataan bahwa padang lamun mendapat tekanan gangguaun utama dari aktivitas manusia maka untuk merehabilitasinya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: yakni ; 1) Rehabiltasi lunak (soft Rehabilitation), dan 2) rehabilitasi keras (Hard Rehabilitation)

a)    Rehabilitasi lunak
Rehabilitasi lunak berkenan dengan penanggulangan  akar  masalah,  dengan  asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasidirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi   lunak   lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi lunak mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)      Kebijakan  dan strategi pengelolaan.  Dalam pengelolaan lingkungan diperlukan kebijakan dan strategi yan jelas untuk menjadi acuan pelaksanaan oleh para pemangku kepentingan ( stake holdes).
2)      Penyadaran masyarakat (Public    awareness). Penyadaran masyarakat dapa dilaksanakan dengan berbagai pendekatan.
3)      Pendidikan. Pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalan pendidikan formal dan non-formal.
4)      Pengembangan riset. Riset diperlukan untukmendapatkan informasi yang akurat untuk mendasari pengambilan Keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
5)      Mata pencaharian yang alternatif. Perlu dikembangkan berbagai kegiatan untuk mengembangkan mata pencarian alternatif yang ramah lingkungan yang  dapat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah diajak untuk menghargai dan melindungi lingkungan.
6)      Pengikut      sertaan            masyarakat. Pertisipasi masyrakat dalam berbagai kegiatan lingkungan apat memberi motivasi yang lebih kuat dan lebih menjamin keberlanjutanya. Kegiaan bersih pantai dan pengelolaan sampah misalnya merupakan bagian dari kegiatan ini.
7)      Pengembangan   Daerah   Pelindungan   Padang   Lamun   (segrass   sanctuary)   berbasis masyarakat. Daerah perlidungan padang lamun merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang. 
8)      Peraturan perundangan. Pengembangan peraturan perundangan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat luas. Keberadaan hukum adat, serta kebiasaan masyarakat lokal perlu dihargai dan dikembangkan.
9)      Penegakan huku secara konsisten. Segala peraturan perundangan tidak akan ada dimankan bila tidak ada ditegakan secara konsisten. Lembaga-lembaga yang terkait dengan penegakan hukum perlu diperkuat, termasuk lembaga-lembaga adat.
b)   Rehabilitasi Keras
Rehabiltsi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan dilapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan rehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun dilingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun di Indonesia belum berkembang luas. Berbagai percobaan transplantasi lamun telah dilaksanakanoleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPIdomics yang masih dalam taraf awal. Pengembangan transplantasi lamun telah dilaksanakan diluar negeri dengan berbagai tingkat keberhasilan.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Luas lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km² yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suat padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataanya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
Kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun: Kerusakan fisik yang menyebabkan degradasi lngkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusakanya habitat padang lamun.
            Akar terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
v  Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan peranannya dalam lingkungan.
v  Kemiskinan masyarakat.
v  Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut.
v  Kebijakan pengelolaan yang tak jelas.
v  Kelemahan perundangan.
v  Penegakan hukum yang lemah.
v  polution (logam berat dan minyak)
pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (Community-base Management) dapat di defenisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya.
Rehabilitasi lunak berkenaan dengan penanggulangan akar masalah, dengan asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasi  dirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi lunak lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan di lapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan merehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun di lingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun belum berkembang luas di Indonesia.
B.     Penutup
Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pengelolaan dan masalah lamun. Tantunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan tau referensi yang ada hubunganya dengan judul.
Saya berharap banyak kepada para pembaca untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga tulisan atau makalah ini dapat berguna bagi penyuluh perikanan pada umumnya dan pengelolaan kawasan konservasi pada khususnya.









BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Padang Lamun di Indonesia yang diperkirakan seluas sekitar 30.000 km2 mempunyai peran penting sebagai habitat ikan dan berbagai biota lainnya. Berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi penting menjadikan padang lamun sebagai tempat mencari makan, berlindung, bertelur, memijah dan sebagai daerah asuhan. Padang lamun juga berperan penting untuk menjaga kestabilan garis pantai. Dalam perkembangannya banyak daerah lamun yang telah mengalami gangguan atau kerusakan karena gangguan alam ataupun karena aktivitas manusia. Gangguan atau tekanan oleh aktivitas manusia yang berlangsung terus menerus menimbulkan dampak yang lebih besar. Akar masalah perusakan padang lamun antara lain karena ketidak-tahuan masyarakat, kemiskinan, keserakahan, lemahnya perundangan dan penegakan hukum. Oleh karena itu pengelolaan padang lamun harus mengatasi masalah mendasar itu dalam upaya rehabilitasi padang lamun. Rehabilitasi padang lamun dapat di lakukan dengan dua pendekatan yakni: rehabilitasi lunak dan rehabilitasi keras. Rehabilitasi lunak lebih ditekankan pada pengendalian perilaku manusia yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, misalnya melalui kampanye penyadaran masyarakat (public awareness), pendidikan, pengembangan mata pencaharian alternatif, pengembangan Daerah Perlindungan Padang Lamun, pengembangan peraturan dan perundangan, dan penegakan hukum secara konsisten. Rehabilitasi keras mencakup kegiatan rehabilitasi langsung di lapangan seperti transplantasi lamun. Dibandingkan dengan ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem lamun belum banyak mendapat perhatian Ini disebabkan karena ekosistem lamun selama ini sering disalah-pahami sebagai lingkungan yang tidak banyak memberi manfaat nyata bagi manusia. Di Indonesia baru setelah tahun 2000-an perhatian pada lamun mulai berkembang seiring dengan mulai berkembangnya pengetahuan tentang peran lamun.
            Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suatu padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
            Lamun juga penting bagi perikanan, karena banyak jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting, hidup di lingkungan lamun. Lamun dapat befungsi sebagai tempat ikan berlindung, memijah dan mengasuh anakannya, dan sebagai tempat mencari makan. Selain ikan, beberapa biota lainnya yang mempunyai nilai ekonomi juga dapat dijumpai hidup di padang lamun seperti teripang, keong lola (Trochus), udang dan berbagai jenis kerang-kerangan. Beberapa hewan laut yang sekarang makin terancam dan telah dilindungi seperti duyung (dugong) dan penyu (terutama penyu hijau) makanannya terutama teridiri dari lamun. Lamun juga mempunyai hubungan interkoneksi dengan mangrove dan terumbu karang sehingga diantara ketiganya dapat terjadi saling pertukaran energi dan materi.
            Dilihat dari aspek pertahanan pantai, padang lamun dengan akar-akarnya yang mencengkeram dasar laut dapat meredam gerusan gelombang laut hingga padang lamun dapat mengurangi dampak erosi. Padang lamun juga dapat menangkap sedimen hingga akan membantu menjaga kualitas air.

B.     Rumusan Permasalahan
Rumusan masalah yang dapat diambil yaitu sebagai berikut:
Ø  Apa saja fungsi-fungsi ekosistem lamun.
Ø  Apa saja kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun di Kotawaringin Barat.
Ø  Bagaimana pengelolaan ekosistem lamun.
C.     Tujuan dan Manfaat
-Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Ø  Mengetahui fungsi-fungsi ekosistem lamun
Ø  Mengetahui kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun
Ø  Mengetahui sistem pengelolaan ekosistem lamun yang baik.
            -Adapun manfaat yang  dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
Kita dapat mengetahui kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun serta penanggualangan dan pengelolaannya secara optimal untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     Parameter Lingkungan
1.      Suhu
            Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan, karena suhu mempengaruhi kualitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor penting dalam menjelaskan biogegrafi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkumental al, 1989).       Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan pada saat cahaya penuh. Pengaruh suhu pada lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses  fisiologi yaitu fotosintesis, dan reproduksi, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun tajam apabila suhu perairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).
2.      Arus  laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan
            Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang disebabkan tiupan angin, perbedaan densitas air laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut  (pasut). Arus disebabkan aleh pasang surut biasanya banyak diamati diperairan pantai  (Nontji, 1993).
Kecepatan arus perairan berpengaruh pada produktivitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap (standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det (Dahri et al, 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kecuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi  penetraasi cahaya. Aksi menguntungka  dari arus terhadap organisme terletak pada transport bahan makanan tambahan bagi organisme dan dalam hal pengankutan  buangan (Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus dan detritus hal ini menunjukkan kemampuan tumbuhan lamun mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998).
3.      Salinitas
            Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya di nyatakan dalam satuan ‰ (permil). Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).
            Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki kisaranyang lebar yaitu 10‰ -40‰. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35‰ (Dahuri et al, 1996)
4.      Kecerahan
            Kecerahan perairan menunjukan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada  kedalaman tertentu. Pada perairan alami,kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhan cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannyayang terbatas pada  daerah yang masih menerima cahaya matahari (Berwich, 1983 dalam Mantane, 1998). Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh kandungan lumpur, kandungan plankton, dan zat (Birowo et al dalam Mintane, 1998).
5.      Kekeruhan
            Kekeruhan secra tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapt menghalangi penetrasi cahaya yang di butuhkan oleh lamun nntuk berfotosintesis  masuk ke dalam air. Kekeruhandapa disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup sepertiplankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya . pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor  pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997).
6.      Kedalaman
            Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona interdidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal di cirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum  interdidal bawah (Hutomo, 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (0986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. accoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi.
7.      Oksigen Terlarut (DO)
            kadar oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan turbulensi air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/alfitude dan berkurangnya rekanan atmosfer (Effendi, 2000).
            Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selain itu kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman  organisme suat ekosistem perairan. Menurut Effendi (200) perairan yang memperuntukan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memilih kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik.
            Sumber oksiogen bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitarbisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994 dalam Effendi, 2000).
8.      Subtrat
            Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangnya guna menyokong tumbuhan di tempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate, 1970).
            Kesesuaian subtrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup. Semakin tipis subtrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal subtrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman subtrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal yaitu, : 1) pelindung tanaman dari arus laut.; 2) temat pengelolahan dan pemasok nutrien (Berwick,1983).
            Padang lamn hidup diberbagai tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang erdiri dari 40% endapan lumpur dan fine mud (Dahuriet al, 1996). Semua tipe subtrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas di jumpai pada subtrat yang lunak. Berdasarkan tioe karakteristik tipe subtratnya padang lamun yang tumbuh di perairan Indonesia di kelompokan menjadi 6 katagori, yaitu: ) Lumpur, 2) Lumpur  pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang  dan 6) Batu karang. Pengelompokan tipe subtrat ini berdasarkan ukuran  partikelnya dengan menggunakan Segitiga Milla.





















Sumber : Brower and Zar (1977) dalam Hartati dan Awalluddin (2007)

Gambar .   Persentase tekstur substrat berdasarkan Segitiga Millar


9.      Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kellimpahan dan morfoogi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo, 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapa dipertukarkan yang dapat dimanfaatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitassedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen harus mempunyai kapsitas penyerpan yang paling tinggi. Penyerpan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama didaerah tropik (Dawes, 1981).penyerappan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Ertmeijer, 1993).




BAB III PEMBAHASAN

A.    Fungsi Ekosistem Lamun
Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator.
`Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
Ø Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).
Ø Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
Ø Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
Ø Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:
Ø Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
Ø Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
Ø Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
Ø Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
Ø Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Ø Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Ø Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Ø Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
Ø Digunakan untuk kompos dan pupuk
Ø Cerutu dan mainan anak-anak
Ø Dianyam menjadi keranjang
Ø Tumpukan untuk pematang
Ø Mengisi kasur
Ø Ada yang dimakan
Ø Dibuat jaring ikan
Ø Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
Ø Penyaring limbah
Ø Stabilizator pantai
Ø Bahan untuk pabrik kertas
Ø Makanan
Ø Obat-obatan
Ø Sumber bahan kimia.

B.     Kerusakan Ekosistem Lamun

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di perairan yang cukup rentan terhadap perubahan yang terjadi. Sehingga mudah mengalami kerusakan. Ekosistem lamun juga sering dijumpai berdampingan atau saling tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan terdapat interkoneksi antar ketiganya, dimana ekspor dan impor energi dan materi terjadi diantara ketiganya. Ada ikan jenis-jenis tertentu dapat berenang melintas batas dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya.
Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 km2, tetapi diperkirakan kini telah menyusut sebanyak 30 – 40 %.  Kerusakan ekosistem lamun antara lain karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing).  Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten misalnya, telah melenyapkan ratusan hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari ( DKI Jakarta) telah berkurang sebanyak 25 % dari tahun 1999 hingga 2004.
Kerusakan lamun juga dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress. Kerusakan-kerusakan ekosistem lamun yang disebabkan oleh natural stress biasanya disebabkan oleh gunung meletus, tsunami, kompetisi dan predasi. Dan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Ø  Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Ø  Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
Ø  Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak memupuk tambak).
Ø  Water polution (logam berat dan minyak).
Ø  Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihan dan cara penangkapannya yang merusak).
C.     Akar Masalah Pengelolaan
Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut diatas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Padadasarnya manusia tidak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa elakukan mitigasi atau pengaulangan akiibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam mempunyai ketahanan (reilience) da mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas terentu.
Dalam pengelolaanpadang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padag lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasarkan acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1.         Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2.         Kemiskinan masyakarat
3.         Keserakahan mengeksploitasi sumbernya lautan
4.         Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5.         Kelemahan perundangan
6.         Penegak hukum yang lemah

D.    Pengelolaan Ekosisem Lamun
Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumberdaya alam  diberikan porsi yang lebih besar.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai  komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah pengelolaan berbasis masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996) mengemukakan  bahwa pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan  mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan  terhadap sumberdaya pesisir termasuk lamun di kawasan tersebut.
E.     Pengelolaan Berwawas Lingkungan.
Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam setiap perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup di pesisir dan laut dalam lingkungan pembangunan.
F.      Pengelolaan Berbasis Masyarakat.
Menurut definisi, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat adalah suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimanan pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak atau berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut (Carter, 1996). Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (community-base management) dapat didefinisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya, dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, dan tujuan serta aspirasinya (Nikijuluw, 2002; Dahuri, 2003).
Pengelolaan berbasis masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah co-management(pengelolaan bersama), yakni pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan. Pengelolaan berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidupnya sendiri dan mampu mengelola sumberdaya mereka dengan baik, sehingga yang dibutuhkan hanyalah dukungan untuk mengelola dan menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat saat ini menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah setempat dalam hal pengambilan keputusan. Demikian pula dalam pelaksanaan suatu kegiatan, dukungan pemerintah masih memegang peranan penting dalam memberikan pengarahan, bantuan teknis, dan merestui kegiatan yang sudah disepakati bersama. Sebaliknya, bila tidak ada dukungan partisipasi masyarakat terhadap program yang sudah direncanakan oleh pemerintah, maka hasilnya tidak akan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemerintah setempat secara bersama-sama sangatlah penting sejak awal kegiatan.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment centralized management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community based management). Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara langsung menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada pengelolaan sumberdaya alam yang berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal sebagai pengguna dari sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu: (1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), dan (2) pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter, 1996), yaitu: (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, (2) mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik, (3) ampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, (4) responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal, (5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada, (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen, dan (7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem padang lamun yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya padang lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini, pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan.
Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakt dapat diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua komponen masyarakat dan pemerintah sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama, yaitu: (1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri perikanan modern), dan (2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya hayati laut (misalnya, berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air, pencemaran).
G.    Pendekatan Kebijakan
Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek, yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektoral; (3) keterpaduan disiplin ilmu; dan (4) keterpaduan stakeholders (pemakai).
H.    Rehabilitasi Pdang Lamun
Merujuk pada kenyataan bahwa padang lamun mendapat tekanan gangguaun utama dari aktivitas manusia maka untuk merehabilitasinya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: yakni ; 1) Rehabiltasi lunak (soft Rehabilitation), dan 2) rehabilitasi keras (Hard Rehabilitation)

a)    Rehabilitasi lunak
Rehabilitasi lunak berkenan dengan penanggulangan  akar  masalah,  dengan  asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasidirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi   lunak   lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi lunak mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)      Kebijakan  dan strategi pengelolaan.  Dalam pengelolaan lingkungan diperlukan kebijakan dan strategi yan jelas untuk menjadi acuan pelaksanaan oleh para pemangku kepentingan ( stake holdes).
2)      Penyadaran masyarakat (Public    awareness). Penyadaran masyarakat dapa dilaksanakan dengan berbagai pendekatan.
3)      Pendidikan. Pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalan pendidikan formal dan non-formal.
4)      Pengembangan riset. Riset diperlukan untukmendapatkan informasi yang akurat untuk mendasari pengambilan Keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
5)      Mata pencaharian yang alternatif. Perlu dikembangkan berbagai kegiatan untuk mengembangkan mata pencarian alternatif yang ramah lingkungan yang  dapat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah diajak untuk menghargai dan melindungi lingkungan.
6)      Pengikut      sertaan            masyarakat. Pertisipasi masyrakat dalam berbagai kegiatan lingkungan apat memberi motivasi yang lebih kuat dan lebih menjamin keberlanjutanya. Kegiaan bersih pantai dan pengelolaan sampah misalnya merupakan bagian dari kegiatan ini.
7)      Pengembangan   Daerah   Pelindungan   Padang   Lamun   (segrass   sanctuary)   berbasis masyarakat. Daerah perlidungan padang lamun merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang. 
8)      Peraturan perundangan. Pengembangan peraturan perundangan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat luas. Keberadaan hukum adat, serta kebiasaan masyarakat lokal perlu dihargai dan dikembangkan.
9)      Penegakan huku secara konsisten. Segala peraturan perundangan tidak akan ada dimankan bila tidak ada ditegakan secara konsisten. Lembaga-lembaga yang terkait dengan penegakan hukum perlu diperkuat, termasuk lembaga-lembaga adat.
b)   Rehabilitasi Keras
Rehabiltsi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan dilapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan rehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun dilingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun di Indonesia belum berkembang luas. Berbagai percobaan transplantasi lamun telah dilaksanakanoleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPIdomics yang masih dalam taraf awal. Pengembangan transplantasi lamun telah dilaksanakan diluar negeri dengan berbagai tingkat keberhasilan.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Luas lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km² yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suat padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataanya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
Kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun: Kerusakan fisik yang menyebabkan degradasi lngkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusakanya habitat padang lamun.
            Akar terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
v  Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan peranannya dalam lingkungan.
v  Kemiskinan masyarakat.
v  Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut.
v  Kebijakan pengelolaan yang tak jelas.
v  Kelemahan perundangan.
v  Penegakan hukum yang lemah.
v  polution (logam berat dan minyak)
pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (Community-base Management) dapat di defenisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya.
Rehabilitasi lunak berkenaan dengan penanggulangan akar masalah, dengan asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasi  dirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi lunak lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan di lapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan merehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun di lingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun belum berkembang luas di Indonesia.
B.     Penutup
Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pengelolaan dan masalah lamun. Tantunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan tau referensi yang ada hubunganya dengan judul.
Saya berharap banyak kepada para pembaca untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga tulisan atau makalah ini dapat berguna bagi penyuluh perikanan pada umumnya dan pengelolaan kawasan konservasi pada khususnya.








BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Padang Lamun di Indonesia yang diperkirakan seluas sekitar 30.000 km2 mempunyai peran penting sebagai habitat ikan dan berbagai biota lainnya. Berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi penting menjadikan padang lamun sebagai tempat mencari makan, berlindung, bertelur, memijah dan sebagai daerah asuhan. Padang lamun juga berperan penting untuk menjaga kestabilan garis pantai. Dalam perkembangannya banyak daerah lamun yang telah mengalami gangguan atau kerusakan karena gangguan alam ataupun karena aktivitas manusia. Gangguan atau tekanan oleh aktivitas manusia yang berlangsung terus menerus menimbulkan dampak yang lebih besar. Akar masalah perusakan padang lamun antara lain karena ketidak-tahuan masyarakat, kemiskinan, keserakahan, lemahnya perundangan dan penegakan hukum. Oleh karena itu pengelolaan padang lamun harus mengatasi masalah mendasar itu dalam upaya rehabilitasi padang lamun. Rehabilitasi padang lamun dapat di lakukan dengan dua pendekatan yakni: rehabilitasi lunak dan rehabilitasi keras. Rehabilitasi lunak lebih ditekankan pada pengendalian perilaku manusia yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, misalnya melalui kampanye penyadaran masyarakat (public awareness), pendidikan, pengembangan mata pencaharian alternatif, pengembangan Daerah Perlindungan Padang Lamun, pengembangan peraturan dan perundangan, dan penegakan hukum secara konsisten. Rehabilitasi keras mencakup kegiatan rehabilitasi langsung di lapangan seperti transplantasi lamun. Dibandingkan dengan ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem lamun belum banyak mendapat perhatian Ini disebabkan karena ekosistem lamun selama ini sering disalah-pahami sebagai lingkungan yang tidak banyak memberi manfaat nyata bagi manusia. Di Indonesia baru setelah tahun 2000-an perhatian pada lamun mulai berkembang seiring dengan mulai berkembangnya pengetahuan tentang peran lamun.
            Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suatu padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
            Lamun juga penting bagi perikanan, karena banyak jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting, hidup di lingkungan lamun. Lamun dapat befungsi sebagai tempat ikan berlindung, memijah dan mengasuh anakannya, dan sebagai tempat mencari makan. Selain ikan, beberapa biota lainnya yang mempunyai nilai ekonomi juga dapat dijumpai hidup di padang lamun seperti teripang, keong lola (Trochus), udang dan berbagai jenis kerang-kerangan. Beberapa hewan laut yang sekarang makin terancam dan telah dilindungi seperti duyung (dugong) dan penyu (terutama penyu hijau) makanannya terutama teridiri dari lamun. Lamun juga mempunyai hubungan interkoneksi dengan mangrove dan terumbu karang sehingga diantara ketiganya dapat terjadi saling pertukaran energi dan materi.
            Dilihat dari aspek pertahanan pantai, padang lamun dengan akar-akarnya yang mencengkeram dasar laut dapat meredam gerusan gelombang laut hingga padang lamun dapat mengurangi dampak erosi. Padang lamun juga dapat menangkap sedimen hingga akan membantu menjaga kualitas air.

B.     Rumusan Permasalahan
Rumusan masalah yang dapat diambil yaitu sebagai berikut:
Ø  Apa saja fungsi-fungsi ekosistem lamun.
Ø  Apa saja kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun di Kotawaringin Barat.
Ø  Bagaimana pengelolaan ekosistem lamun.
C.     Tujuan dan Manfaat
-Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Ø  Mengetahui fungsi-fungsi ekosistem lamun
Ø  Mengetahui kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun
Ø  Mengetahui sistem pengelolaan ekosistem lamun yang baik.
            -Adapun manfaat yang  dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
Kita dapat mengetahui kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun serta penanggualangan dan pengelolaannya secara optimal untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     Parameter Lingkungan
1.      Suhu
            Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan, karena suhu mempengaruhi kualitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor penting dalam menjelaskan biogegrafi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkumental al, 1989).       Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan pada saat cahaya penuh. Pengaruh suhu pada lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses  fisiologi yaitu fotosintesis, dan reproduksi, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun tajam apabila suhu perairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).
2.      Arus  laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan
            Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang disebabkan tiupan angin, perbedaan densitas air laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut  (pasut). Arus disebabkan aleh pasang surut biasanya banyak diamati diperairan pantai  (Nontji, 1993).
Kecepatan arus perairan berpengaruh pada produktivitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap (standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det (Dahri et al, 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kecuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi  penetraasi cahaya. Aksi menguntungka  dari arus terhadap organisme terletak pada transport bahan makanan tambahan bagi organisme dan dalam hal pengankutan  buangan (Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus dan detritus hal ini menunjukkan kemampuan tumbuhan lamun mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998).
3.      Salinitas
            Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya di nyatakan dalam satuan ‰ (permil). Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).
            Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki kisaranyang lebar yaitu 10‰ -40‰. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35‰ (Dahuri et al, 1996)
4.      Kecerahan
            Kecerahan perairan menunjukan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada  kedalaman tertentu. Pada perairan alami,kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhan cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannyayang terbatas pada  daerah yang masih menerima cahaya matahari (Berwich, 1983 dalam Mantane, 1998). Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh kandungan lumpur, kandungan plankton, dan zat (Birowo et al dalam Mintane, 1998).
5.      Kekeruhan
            Kekeruhan secra tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapt menghalangi penetrasi cahaya yang di butuhkan oleh lamun nntuk berfotosintesis  masuk ke dalam air. Kekeruhandapa disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup sepertiplankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya . pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor  pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997).
6.      Kedalaman
            Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona interdidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal di cirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum  interdidal bawah (Hutomo, 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (0986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. accoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi.
7.      Oksigen Terlarut (DO)
            kadar oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan turbulensi air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/alfitude dan berkurangnya rekanan atmosfer (Effendi, 2000).
            Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selain itu kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman  organisme suat ekosistem perairan. Menurut Effendi (200) perairan yang memperuntukan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memilih kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik.
            Sumber oksiogen bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitarbisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994 dalam Effendi, 2000).
8.      Subtrat
            Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangnya guna menyokong tumbuhan di tempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate, 1970).
            Kesesuaian subtrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup. Semakin tipis subtrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal subtrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman subtrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal yaitu, : 1) pelindung tanaman dari arus laut.; 2) temat pengelolahan dan pemasok nutrien (Berwick,1983).
            Padang lamn hidup diberbagai tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang erdiri dari 40% endapan lumpur dan fine mud (Dahuriet al, 1996). Semua tipe subtrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas di jumpai pada subtrat yang lunak. Berdasarkan tioe karakteristik tipe subtratnya padang lamun yang tumbuh di perairan Indonesia di kelompokan menjadi 6 katagori, yaitu: ) Lumpur, 2) Lumpur  pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang  dan 6) Batu karang. Pengelompokan tipe subtrat ini berdasarkan ukuran  partikelnya dengan menggunakan Segitiga Milla.






















Sumber : Brower and Zar (1977) dalam Hartati dan Awalluddin (2007)

Gambar .   Persentase tekstur substrat berdasarkan Segitiga Millar


9.      Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kellimpahan dan morfoogi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo, 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapa dipertukarkan yang dapat dimanfaatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitassedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen harus mempunyai kapsitas penyerpan yang paling tinggi. Penyerpan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama didaerah tropik (Dawes, 1981).penyerappan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Ertmeijer, 1993).




BAB III PEMBAHASAN

A.    Fungsi Ekosistem Lamun
Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator.
`Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
Ø Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).
Ø Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
Ø Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
Ø Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:
Ø Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
Ø Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
Ø Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
Ø Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
Ø Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Ø Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Ø Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Ø Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
Ø Digunakan untuk kompos dan pupuk
Ø Cerutu dan mainan anak-anak
Ø Dianyam menjadi keranjang
Ø Tumpukan untuk pematang
Ø Mengisi kasur
Ø Ada yang dimakan
Ø Dibuat jaring ikan
Ø Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
Ø Penyaring limbah
Ø Stabilizator pantai
Ø Bahan untuk pabrik kertas
Ø Makanan
Ø Obat-obatan
Ø Sumber bahan kimia.

B.     Kerusakan Ekosistem Lamun

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di perairan yang cukup rentan terhadap perubahan yang terjadi. Sehingga mudah mengalami kerusakan. Ekosistem lamun juga sering dijumpai berdampingan atau saling tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan terdapat interkoneksi antar ketiganya, dimana ekspor dan impor energi dan materi terjadi diantara ketiganya. Ada ikan jenis-jenis tertentu dapat berenang melintas batas dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya.
Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 km2, tetapi diperkirakan kini telah menyusut sebanyak 30 – 40 %.  Kerusakan ekosistem lamun antara lain karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing).  Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten misalnya, telah melenyapkan ratusan hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari ( DKI Jakarta) telah berkurang sebanyak 25 % dari tahun 1999 hingga 2004.
Kerusakan lamun juga dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress. Kerusakan-kerusakan ekosistem lamun yang disebabkan oleh natural stress biasanya disebabkan oleh gunung meletus, tsunami, kompetisi dan predasi. Dan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Ø  Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Ø  Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
Ø  Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak memupuk tambak).
Ø  Water polution (logam berat dan minyak).
Ø  Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihan dan cara penangkapannya yang merusak).
C.     Akar Masalah Pengelolaan
Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut diatas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Padadasarnya manusia tidak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa elakukan mitigasi atau pengaulangan akiibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam mempunyai ketahanan (reilience) da mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas terentu.
Dalam pengelolaanpadang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padag lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasarkan acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1.         Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2.         Kemiskinan masyakarat
3.         Keserakahan mengeksploitasi sumbernya lautan
4.         Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5.         Kelemahan perundangan
6.         Penegak hukum yang lemah

D.    Pengelolaan Ekosisem Lamun
Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumberdaya alam  diberikan porsi yang lebih besar.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai  komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah pengelolaan berbasis masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996) mengemukakan  bahwa pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan  mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan  terhadap sumberdaya pesisir termasuk lamun di kawasan tersebut.
E.     Pengelolaan Berwawas Lingkungan.
Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam setiap perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup di pesisir dan laut dalam lingkungan pembangunan.
F.      Pengelolaan Berbasis Masyarakat.
Menurut definisi, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat adalah suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimanan pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak atau berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut (Carter, 1996). Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (community-base management) dapat didefinisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya, dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, dan tujuan serta aspirasinya (Nikijuluw, 2002; Dahuri, 2003).
Pengelolaan berbasis masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah co-management(pengelolaan bersama), yakni pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan. Pengelolaan berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidupnya sendiri dan mampu mengelola sumberdaya mereka dengan baik, sehingga yang dibutuhkan hanyalah dukungan untuk mengelola dan menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat saat ini menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah setempat dalam hal pengambilan keputusan. Demikian pula dalam pelaksanaan suatu kegiatan, dukungan pemerintah masih memegang peranan penting dalam memberikan pengarahan, bantuan teknis, dan merestui kegiatan yang sudah disepakati bersama. Sebaliknya, bila tidak ada dukungan partisipasi masyarakat terhadap program yang sudah direncanakan oleh pemerintah, maka hasilnya tidak akan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemerintah setempat secara bersama-sama sangatlah penting sejak awal kegiatan.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment centralized management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community based management). Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara langsung menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada pengelolaan sumberdaya alam yang berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal sebagai pengguna dari sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu: (1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), dan (2) pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter, 1996), yaitu: (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, (2) mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik, (3) ampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, (4) responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal, (5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada, (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen, dan (7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem padang lamun yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya padang lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini, pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan.
Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakt dapat diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua komponen masyarakat dan pemerintah sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama, yaitu: (1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri perikanan modern), dan (2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya hayati laut (misalnya, berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air, pencemaran).
G.    Pendekatan Kebijakan
Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek, yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektoral; (3) keterpaduan disiplin ilmu; dan (4) keterpaduan stakeholders (pemakai).
H.    Rehabilitasi Pdang Lamun
Merujuk pada kenyataan bahwa padang lamun mendapat tekanan gangguaun utama dari aktivitas manusia maka untuk merehabilitasinya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: yakni ; 1) Rehabiltasi lunak (soft Rehabilitation), dan 2) rehabilitasi keras (Hard Rehabilitation)

a)    Rehabilitasi lunak
Rehabilitasi lunak berkenan dengan penanggulangan  akar  masalah,  dengan  asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasidirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi   lunak   lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi lunak mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)      Kebijakan  dan strategi pengelolaan.  Dalam pengelolaan lingkungan diperlukan kebijakan dan strategi yan jelas untuk menjadi acuan pelaksanaan oleh para pemangku kepentingan ( stake holdes).
2)      Penyadaran masyarakat (Public    awareness). Penyadaran masyarakat dapa dilaksanakan dengan berbagai pendekatan.
3)      Pendidikan. Pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalan pendidikan formal dan non-formal.
4)      Pengembangan riset. Riset diperlukan untukmendapatkan informasi yang akurat untuk mendasari pengambilan Keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
5)      Mata pencaharian yang alternatif. Perlu dikembangkan berbagai kegiatan untuk mengembangkan mata pencarian alternatif yang ramah lingkungan yang  dapat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah diajak untuk menghargai dan melindungi lingkungan.
6)      Pengikut      sertaan            masyarakat. Pertisipasi masyrakat dalam berbagai kegiatan lingkungan apat memberi motivasi yang lebih kuat dan lebih menjamin keberlanjutanya. Kegiaan bersih pantai dan pengelolaan sampah misalnya merupakan bagian dari kegiatan ini.
7)      Pengembangan   Daerah   Pelindungan   Padang   Lamun   (segrass   sanctuary)   berbasis masyarakat. Daerah perlidungan padang lamun merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang. 
8)      Peraturan perundangan. Pengembangan peraturan perundangan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat luas. Keberadaan hukum adat, serta kebiasaan masyarakat lokal perlu dihargai dan dikembangkan.
9)      Penegakan huku secara konsisten. Segala peraturan perundangan tidak akan ada dimankan bila tidak ada ditegakan secara konsisten. Lembaga-lembaga yang terkait dengan penegakan hukum perlu diperkuat, termasuk lembaga-lembaga adat.
b)   Rehabilitasi Keras
Rehabiltsi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan dilapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan rehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun dilingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun di Indonesia belum berkembang luas. Berbagai percobaan transplantasi lamun telah dilaksanakanoleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPIdomics yang masih dalam taraf awal. Pengembangan transplantasi lamun telah dilaksanakan diluar negeri dengan berbagai tingkat keberhasilan.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Luas lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km² yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suat padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataanya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
Kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun: Kerusakan fisik yang menyebabkan degradasi lngkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusakanya habitat padang lamun.
            Akar terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
v  Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan peranannya dalam lingkungan.
v  Kemiskinan masyarakat.
v  Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut.
v  Kebijakan pengelolaan yang tak jelas.
v  Kelemahan perundangan.
v  Penegakan hukum yang lemah.
v  polution (logam berat dan minyak)
pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (Community-base Management) dapat di defenisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya.
Rehabilitasi lunak berkenaan dengan penanggulangan akar masalah, dengan asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasi  dirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi lunak lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan di lapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan merehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun di lingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun belum berkembang luas di Indonesia.
B.     Penutup
Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pengelolaan dan masalah lamun. Tantunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan tau referensi yang ada hubunganya dengan judul.
Saya berharap banyak kepada para pembaca untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga tulisan atau makalah ini dapat berguna bagi penyuluh perikanan pada umumnya dan pengelolaan kawasan konservasi pada khususnya.








BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Padang Lamun di Indonesia yang diperkirakan seluas sekitar 30.000 km2 mempunyai peran penting sebagai habitat ikan dan berbagai biota lainnya. Berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi penting menjadikan padang lamun sebagai tempat mencari makan, berlindung, bertelur, memijah dan sebagai daerah asuhan. Padang lamun juga berperan penting untuk menjaga kestabilan garis pantai. Dalam perkembangannya banyak daerah lamun yang telah mengalami gangguan atau kerusakan karena gangguan alam ataupun karena aktivitas manusia. Gangguan atau tekanan oleh aktivitas manusia yang berlangsung terus menerus menimbulkan dampak yang lebih besar. Akar masalah perusakan padang lamun antara lain karena ketidak-tahuan masyarakat, kemiskinan, keserakahan, lemahnya perundangan dan penegakan hukum. Oleh karena itu pengelolaan padang lamun harus mengatasi masalah mendasar itu dalam upaya rehabilitasi padang lamun. Rehabilitasi padang lamun dapat di lakukan dengan dua pendekatan yakni: rehabilitasi lunak dan rehabilitasi keras. Rehabilitasi lunak lebih ditekankan pada pengendalian perilaku manusia yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, misalnya melalui kampanye penyadaran masyarakat (public awareness), pendidikan, pengembangan mata pencaharian alternatif, pengembangan Daerah Perlindungan Padang Lamun, pengembangan peraturan dan perundangan, dan penegakan hukum secara konsisten. Rehabilitasi keras mencakup kegiatan rehabilitasi langsung di lapangan seperti transplantasi lamun. Dibandingkan dengan ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem lamun belum banyak mendapat perhatian Ini disebabkan karena ekosistem lamun selama ini sering disalah-pahami sebagai lingkungan yang tidak banyak memberi manfaat nyata bagi manusia. Di Indonesia baru setelah tahun 2000-an perhatian pada lamun mulai berkembang seiring dengan mulai berkembangnya pengetahuan tentang peran lamun.
            Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suatu padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
            Lamun juga penting bagi perikanan, karena banyak jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting, hidup di lingkungan lamun. Lamun dapat befungsi sebagai tempat ikan berlindung, memijah dan mengasuh anakannya, dan sebagai tempat mencari makan. Selain ikan, beberapa biota lainnya yang mempunyai nilai ekonomi juga dapat dijumpai hidup di padang lamun seperti teripang, keong lola (Trochus), udang dan berbagai jenis kerang-kerangan. Beberapa hewan laut yang sekarang makin terancam dan telah dilindungi seperti duyung (dugong) dan penyu (terutama penyu hijau) makanannya terutama teridiri dari lamun. Lamun juga mempunyai hubungan interkoneksi dengan mangrove dan terumbu karang sehingga diantara ketiganya dapat terjadi saling pertukaran energi dan materi.
            Dilihat dari aspek pertahanan pantai, padang lamun dengan akar-akarnya yang mencengkeram dasar laut dapat meredam gerusan gelombang laut hingga padang lamun dapat mengurangi dampak erosi. Padang lamun juga dapat menangkap sedimen hingga akan membantu menjaga kualitas air.

B.     Rumusan Permasalahan
Rumusan masalah yang dapat diambil yaitu sebagai berikut:
Ø  Apa saja fungsi-fungsi ekosistem lamun.
Ø  Apa saja kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun di Kotawaringin Barat.
Ø  Bagaimana pengelolaan ekosistem lamun.
C.     Tujuan dan Manfaat
-Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Ø  Mengetahui fungsi-fungsi ekosistem lamun
Ø  Mengetahui kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun
Ø  Mengetahui sistem pengelolaan ekosistem lamun yang baik.
            -Adapun manfaat yang  dapat diperoleh adalah sebagai berikut:
Kita dapat mengetahui kerusakan yang terjadi pada ekosistem lamun serta penanggualangan dan pengelolaannya secara optimal untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     Parameter Lingkungan
1.      Suhu
            Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan, karena suhu mempengaruhi kualitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor penting dalam menjelaskan biogegrafi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkumental al, 1989).       Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan pada saat cahaya penuh. Pengaruh suhu pada lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses  fisiologi yaitu fotosintesis, dan reproduksi, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun tajam apabila suhu perairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).
2.      Arus  laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan
            Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang disebabkan tiupan angin, perbedaan densitas air laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut  (pasut). Arus disebabkan aleh pasang surut biasanya banyak diamati diperairan pantai  (Nontji, 1993).
Kecepatan arus perairan berpengaruh pada produktivitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap (standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det (Dahri et al, 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kecuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi  penetraasi cahaya. Aksi menguntungka  dari arus terhadap organisme terletak pada transport bahan makanan tambahan bagi organisme dan dalam hal pengankutan  buangan (Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat, sedimen pada padang lamun terdiri dari lumpur halus dan detritus hal ini menunjukkan kemampuan tumbuhan lamun mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998).
3.      Salinitas
            Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya di nyatakan dalam satuan ‰ (permil). Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).
            Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namun sebagian besar memiliki kisaranyang lebar yaitu 10‰ -40‰. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35‰ (Dahuri et al, 1996)
4.      Kecerahan
            Kecerahan perairan menunjukan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada  kedalaman tertentu. Pada perairan alami,kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhan cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannyayang terbatas pada  daerah yang masih menerima cahaya matahari (Berwich, 1983 dalam Mantane, 1998). Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh kandungan lumpur, kandungan plankton, dan zat (Birowo et al dalam Mintane, 1998).
5.      Kekeruhan
            Kekeruhan secra tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapt menghalangi penetrasi cahaya yang di butuhkan oleh lamun nntuk berfotosintesis  masuk ke dalam air. Kekeruhandapa disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup sepertiplankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya . pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor  pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997).
6.      Kedalaman
            Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona interdidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal di cirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum  interdidal bawah (Hutomo, 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (0986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. accoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi.
7.      Oksigen Terlarut (DO)
            kadar oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan turbulensi air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/alfitude dan berkurangnya rekanan atmosfer (Effendi, 2000).
            Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selain itu kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman  organisme suat ekosistem perairan. Menurut Effendi (200) perairan yang memperuntukan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memilih kadar oksigen tidak kurang dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik.
            Sumber oksiogen bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitarbisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994 dalam Effendi, 2000).
8.      Subtrat
            Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangnya guna menyokong tumbuhan di tempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate, 1970).
            Kesesuaian subtrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup. Semakin tipis subtrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal subtrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman subtrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal yaitu, : 1) pelindung tanaman dari arus laut.; 2) temat pengelolahan dan pemasok nutrien (Berwick,1983).
            Padang lamn hidup diberbagai tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang erdiri dari 40% endapan lumpur dan fine mud (Dahuriet al, 1996). Semua tipe subtrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas di jumpai pada subtrat yang lunak. Berdasarkan tioe karakteristik tipe subtratnya padang lamun yang tumbuh di perairan Indonesia di kelompokan menjadi 6 katagori, yaitu: ) Lumpur, 2) Lumpur  pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang  dan 6) Batu karang. Pengelompokan tipe subtrat ini berdasarkan ukuran  partikelnya dengan menggunakan Segitiga Milla.






















Sumber : Brower and Zar (1977) dalam Hartati dan Awalluddin (2007)

Gambar .   Persentase tekstur substrat berdasarkan Segitiga Millar


9.      Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kellimpahan dan morfoogi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo, 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapa dipertukarkan yang dapat dimanfaatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitassedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen harus mempunyai kapsitas penyerpan yang paling tinggi. Penyerpan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama didaerah tropik (Dawes, 1981).penyerappan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Ertmeijer, 1993).




BAB III PEMBAHASAN

A.    Fungsi Ekosistem Lamun
Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator.
`Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
Ø Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).
Ø Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
Ø Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
Ø Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:
Ø Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
Ø Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
Ø Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
Ø Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
Ø Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Ø Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Ø Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Ø Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
Ø Digunakan untuk kompos dan pupuk
Ø Cerutu dan mainan anak-anak
Ø Dianyam menjadi keranjang
Ø Tumpukan untuk pematang
Ø Mengisi kasur
Ø Ada yang dimakan
Ø Dibuat jaring ikan
Ø Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
Ø Penyaring limbah
Ø Stabilizator pantai
Ø Bahan untuk pabrik kertas
Ø Makanan
Ø Obat-obatan
Ø Sumber bahan kimia.

B.     Kerusakan Ekosistem Lamun

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di perairan yang cukup rentan terhadap perubahan yang terjadi. Sehingga mudah mengalami kerusakan. Ekosistem lamun juga sering dijumpai berdampingan atau saling tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan terdapat interkoneksi antar ketiganya, dimana ekspor dan impor energi dan materi terjadi diantara ketiganya. Ada ikan jenis-jenis tertentu dapat berenang melintas batas dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya.
Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 km2, tetapi diperkirakan kini telah menyusut sebanyak 30 – 40 %.  Kerusakan ekosistem lamun antara lain karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing).  Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten misalnya, telah melenyapkan ratusan hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari ( DKI Jakarta) telah berkurang sebanyak 25 % dari tahun 1999 hingga 2004.
Kerusakan lamun juga dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress. Kerusakan-kerusakan ekosistem lamun yang disebabkan oleh natural stress biasanya disebabkan oleh gunung meletus, tsunami, kompetisi dan predasi. Dan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Ø  Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Ø  Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
Ø  Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak memupuk tambak).
Ø  Water polution (logam berat dan minyak).
Ø  Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihan dan cara penangkapannya yang merusak).
C.     Akar Masalah Pengelolaan
Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut diatas, maka perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Padadasarnya manusia tidak dapat mengontrol dan mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa elakukan mitigasi atau pengaulangan akiibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam mempunyai ketahanan (reilience) da mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas terentu.
Dalam pengelolaanpadang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar masalah rusaknya padag lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang merusaknya. Berdasarkan acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
1.         Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2.         Kemiskinan masyakarat
3.         Keserakahan mengeksploitasi sumbernya lautan
4.         Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5.         Kelemahan perundangan
6.         Penegak hukum yang lemah

D.    Pengelolaan Ekosisem Lamun
Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumberdaya alam  diberikan porsi yang lebih besar.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai  komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah pengelolaan berbasis masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996) mengemukakan  bahwa pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan  mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan  terhadap sumberdaya pesisir termasuk lamun di kawasan tersebut.
E.     Pengelolaan Berwawas Lingkungan.
Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam setiap perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup di pesisir dan laut dalam lingkungan pembangunan.
F.      Pengelolaan Berbasis Masyarakat.
Menurut definisi, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat adalah suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimanan pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak atau berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut (Carter, 1996). Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (community-base management) dapat didefinisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya, dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, dan tujuan serta aspirasinya (Nikijuluw, 2002; Dahuri, 2003).
Pengelolaan berbasis masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah co-management(pengelolaan bersama), yakni pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan. Pengelolaan berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidupnya sendiri dan mampu mengelola sumberdaya mereka dengan baik, sehingga yang dibutuhkan hanyalah dukungan untuk mengelola dan menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat saat ini menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah setempat dalam hal pengambilan keputusan. Demikian pula dalam pelaksanaan suatu kegiatan, dukungan pemerintah masih memegang peranan penting dalam memberikan pengarahan, bantuan teknis, dan merestui kegiatan yang sudah disepakati bersama. Sebaliknya, bila tidak ada dukungan partisipasi masyarakat terhadap program yang sudah direncanakan oleh pemerintah, maka hasilnya tidak akan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemerintah setempat secara bersama-sama sangatlah penting sejak awal kegiatan.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment centralized management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community based management). Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara langsung menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada pengelolaan sumberdaya alam yang berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal sebagai pengguna dari sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu: (1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), dan (2) pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter, 1996), yaitu: (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, (2) mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik, (3) ampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, (4) responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan lokal, (5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada, (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen, dan (7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem padang lamun yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya padang lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini, pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan.
Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakt dapat diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua komponen masyarakat dan pemerintah sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama, yaitu: (1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri perikanan modern), dan (2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya hayati laut (misalnya, berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air, pencemaran).
G.    Pendekatan Kebijakan
Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek, yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektoral; (3) keterpaduan disiplin ilmu; dan (4) keterpaduan stakeholders (pemakai).
H.    Rehabilitasi Pdang Lamun
Merujuk pada kenyataan bahwa padang lamun mendapat tekanan gangguaun utama dari aktivitas manusia maka untuk merehabilitasinya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: yakni ; 1) Rehabiltasi lunak (soft Rehabilitation), dan 2) rehabilitasi keras (Hard Rehabilitation)

a)    Rehabilitasi lunak
Rehabilitasi lunak berkenan dengan penanggulangan  akar  masalah,  dengan  asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasidirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi   lunak   lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi lunak mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)      Kebijakan  dan strategi pengelolaan.  Dalam pengelolaan lingkungan diperlukan kebijakan dan strategi yan jelas untuk menjadi acuan pelaksanaan oleh para pemangku kepentingan ( stake holdes).
2)      Penyadaran masyarakat (Public    awareness). Penyadaran masyarakat dapa dilaksanakan dengan berbagai pendekatan.
3)      Pendidikan. Pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalan pendidikan formal dan non-formal.
4)      Pengembangan riset. Riset diperlukan untukmendapatkan informasi yang akurat untuk mendasari pengambilan Keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
5)      Mata pencaharian yang alternatif. Perlu dikembangkan berbagai kegiatan untuk mengembangkan mata pencarian alternatif yang ramah lingkungan yang  dapat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah diajak untuk menghargai dan melindungi lingkungan.
6)      Pengikut      sertaan            masyarakat. Pertisipasi masyrakat dalam berbagai kegiatan lingkungan apat memberi motivasi yang lebih kuat dan lebih menjamin keberlanjutanya. Kegiaan bersih pantai dan pengelolaan sampah misalnya merupakan bagian dari kegiatan ini.
7)      Pengembangan   Daerah   Pelindungan   Padang   Lamun   (segrass   sanctuary)   berbasis masyarakat. Daerah perlidungan padang lamun merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang. 
8)      Peraturan perundangan. Pengembangan peraturan perundangan perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat luas. Keberadaan hukum adat, serta kebiasaan masyarakat lokal perlu dihargai dan dikembangkan.
9)      Penegakan huku secara konsisten. Segala peraturan perundangan tidak akan ada dimankan bila tidak ada ditegakan secara konsisten. Lembaga-lembaga yang terkait dengan penegakan hukum perlu diperkuat, termasuk lembaga-lembaga adat.
b)   Rehabilitasi Keras
Rehabiltsi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan dilapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan rehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun dilingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun di Indonesia belum berkembang luas. Berbagai percobaan transplantasi lamun telah dilaksanakanoleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPIdomics yang masih dalam taraf awal. Pengembangan transplantasi lamun telah dilaksanakan diluar negeri dengan berbagai tingkat keberhasilan.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Luas lamun di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 km² yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suat padang lamun dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja atau vegetasi campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang hidup berbagai biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu rangkaian fungsi ekosistem.
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam kenyataanya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman terhadap lamun pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik).
Kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun: Kerusakan fisik yang menyebabkan degradasi lngkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan terumbu karang dan atau rusakanya habitat padang lamun.
            Akar terjadinya kerusakan padang lamun dapat dikenali sebagai berikut:
v  Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan peranannya dalam lingkungan.
v  Kemiskinan masyarakat.
v  Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya laut.
v  Kebijakan pengelolaan yang tak jelas.
v  Kelemahan perundangan.
v  Penegakan hukum yang lemah.
v  polution (logam berat dan minyak)
pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (Community-base Management) dapat di defenisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya.
Rehabilitasi lunak berkenaan dengan penanggulangan akar masalah, dengan asumsi jika akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasi  dirinya sendiri secara alami. Rehabilitasi lunak lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan di lapangan. Ini dapat dilaksanakan misalnya dengan merehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun di lingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun belum berkembang luas di Indonesia.
B.     Penutup
Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pengelolaan dan masalah lamun. Tantunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan tau referensi yang ada hubunganya dengan judul.
Saya berharap banyak kepada para pembaca untuk berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga tulisan atau makalah ini dapat berguna bagi penyuluh perikanan pada umumnya dan pengelolaan kawasan konservasi pada khususnya.



































  


























  


























  


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar